3 cerita yg bagus utk mempertebal iman.
> God bless you!
>
------------ --------
> Cerita 1
>
> Seorang Katolik menulis surat kepada Editor sebuah
> surat kabar dan
> mengeluhkan kepada para pembaca bahwa dia merasa
> sia-sia pergi ke gereja
> setiap minggu.
> Tulisnya, "saya sudah pergi ke gereja selama 30
> tahun dan selama itu saya
> telah mendengar 3000 khotbah. Tapi selama hidup,
> saya tidak bisa mengingat
> satu khotbah pun. Jadi saya rasa saya telah
> memboroskan begitu banyak waktu
> - demikian pun para pastor itu telah memboroskan
> waktu mereka dengan
> khotbah-khotbah itu."
>
> Surat itu menimbulkan perdebatan yang hebat dalam
> kolom pembaca.
> Perdebatan itu berlangsung berminggu-minggu sampai
> akhirnya ada seseorang
> yang menulis demikian: "Saya sudah menikah selama 30
> tahun. Selama ini
> istri saya telah memasak 32.000 jenis masakan.
> Selama hidup saya tidak bisa
> mengingat satu pun jenis masakan itu yang dilakukan
> istri saya. Tapi saya
> tahu bahwa masakan-masakan itu telah memberi saya
> kekuatan yang saya
> perlukan untuk bekerja. Seandainya istri saya tidak
> memberikan makanan itu
> kepada saya, maka saya sudah lama meninggal."
>
> Sejak itu tak ada lagi komentar tentang khotbah.
>
> ------------ --------
> Cerita 2
>
> Nenek Granny sedang menyambut cucu-cucunya pulang
> dari sekolah.
> Mereka adalah anak-anak muda - anak muda yang sangat
> cerdas dan sering
> menggoda nenek mereka.
> Kali ini, Tom mulai menggoda dia dengan berkata,
> "Nek, apakah nenek masih
> pergi ke gereja pada hari minggu?"
> "Tentu!"
> "Apa yang nenek peroleh dari gereja? Apakah nenek
> bisa memberitahu kami
> tentang Injil minggu lalu..?"
> "Tidak, nenek sudah lupa. Nenek hanya ingat bahwa
> nenek menyukainya. "
> "Lalu apa khotbah dari pastor?"
> "Nenek tidak ingat. Nenek sudah semakin tua dan
> ingatan nenek melemah.
> Nenek hanya ingat bahwa ia telah memberikan khotbah
> yang memberi kekuatan,
> Nenek menyukai khotbah itu."
> Tom menggoda, "Apa untungnya pergi ke gereja jika
> nenek tidak mendapatkan
> sesuatu dariNya?"
> Nenek itu terdiam oleh kata-kata itu dan ia duduk di
> sana termenung.
> Dan anak-anak lain tampak menjadi malu.
> Kemudian nenek itu berdiri dan keluar dari ruangan
> tempat mereka semua
> duduk, dan berkata, "Anak-anak, ayo ikut nenek ke
> dapur."
>
> Ketika mereka tiba di dapur, dia mengambil tas
> rajutan dan memberikannya
> kepada Tom sambil berkata, "Bawalah ini ke mata air,
> dan isilah dengan air,
> lalu bawa kemari!"
> "Nenek, apa nenek tidak sedang melucu?
> Air didalam tas rajutan....!
> "Nek, apa ini bukan lelucon?" tanya Tom.
> "Tidak.., lakukanlah seperti yang kuperintahkan.
> Saya ingin memperlihatkan kepadamu sesuatu."
>
> Maka Tom berlari keluar dan dalam beberapa menit ia
> kembali dengan tas yang
> bertetes-teskan ..
> "Lihat,nek," katanya. "Tidak ada air di dalamnya."
> "Benar," katanya.
> "Tapi lihatlah betapa bersihnya tas itu sekarang.
> Anak-anak, tidak pernah kamu ke gereja tanpa
> mendapatkan sesuatu yang baik,
> meskipun kamu tidak mengetahuinya. "
>
>
> ------------ --------
> Cerita 3
>
> KISAH NATAL
>
> Suatu ketika, ada seorang pria yang menganggap Natal
> sebagai sebuah
> takhayul belaka.
> Dia bukanlah orang yang kikir. Dia adalah pria yang
> baik hati dan tulus,
> setia kepada keluarganya dan bersih kelakuannya
> terhadap orang lain.
> Tetapi ia tidak percaya pada kelahiran Kristus yang
> diceritakan setiap
> gereja di hari Natal. Dia sunguh-sungguh tidak
> percaya.
> "Saya benar-benar minta maaf jika saya membuat kamu
> sedih," kata pria itu
> kepada istrinya yang rajin pergi ke gereja.
> "Tapi saya tidak dapat mengerti mengapa Tuhan mau
> menjadi manusia.
> Itu adalah hal yang tidak masuk akal bagi saya "
>
> Pada malam Natal, istri dan anak-anaknya pergi
> menghadiri kebaktian
> tengah malam di gereja.
> Pria itu menolak untuk menemani mereka.
> "Saya tidak mau menjadi munafik," jawabnya.
> "Saya lebih baik tinggal di rumah. Saya akan
> menunggumu sampai pulang."
>
> Tak lama setelah keluarganya berangkat, salju mulai
> turun.
> Ia melihat keluar jendela dan melihat
> butiran-butiran salju itu
> berjatuhan.
> Lalu ia kembali ke kursinya di samping perapian dan
> mulai membaca surat
> kabar.
> Beberapa menit kemudian, ia dikejutkan oleh suara
> ketukan.
> Bunyi itu terulang tiga kali.
> Ia berpikir seseorang pasti sedang melemparkan bola
> salju ke arah
> jendela rumahnya.
> Ketika ia pergi ke pintu masuk untuk mengeceknya, ia
> menemukan
> sekumpulan burung terbaring tak berdaya di salju
> yang dingin.
> Mereka telah terjebak dalam badai salju dan mereka
> menabrak kaca jendela
> ketika hendak mencari tempat berteduh.
>
> Saya tidak dapat membiarkan makhluk kecil itu
> kedinginan di sini, pikir
> pria itu.
> Tapi bagaimana saya bisa menolong mereka?
> Kemudian ia teringat akan kandang tempat kuda poni
> anak-anaknya.
> Kandang itu pasti dapat memberikan tempat berlindung
> yang hangat.
> Dengan segera pria itu mengambil jaketnya dan pergi
> ke kandang kuda
> tersebut.
> Ia membuka pintunya lebar-lebar dan menyalakan
> lampunya. Tapi
> burung-burung itu tidak masuk ke dalam.
> Makanan pasti dapat menuntun mereka masuk, pikirnya.
> Jadi ia berlari kembali ke rumahnya untuk mengambil
> remah-remah roti dan
> menebarkannya ke salju untuk membuat jejak ke arah
> kandang.
> Tapi ia sungguh terkejut.
> Burung-burung itu tidak menghiraukan remah roti tadi
> dan terus
> melompat-lompat kedinginan di atas salju.
>
> Pria itu mencoba menggiring mereka seperti anjing
> menggiring domba, tapi
> justru burung-burung itu berpencaran kesana-kemari,
> malah menjauhi kandang
> yang hangat itu.
> "Mereka menganggap saya sebagai makhluk yang aneh
> dan menakutkan," kata
> pria itu pada dirinya sendiri, "dan saya tidak dapat
> memikirkan cara lain
> untuk memberitahu bahwa mereka dapat mempercayai
> saya.
> Kalau saja saya dapat menjadi seekor burung selama
> beberapa menit,
> mungkin saya dapat membawa mereka pada tempat yang
> aman."
>
> Pada saat itu juga, lonceng gereja berbunyi.
> Pria itu berdiri tertegun selama beberapa waktu,
> mendengarkan bunyi
> lonceng itu menyambut Natal yang indah.
> Kemudian dia terjatuh pada lututnya dan berkata,
> "Sekarang saya
> mengerti," bisiknya dengan terisak.
> "Sekarang saya mengerti mengapa KAU mau menjadi
> manusia."
>
> Saudaraku, sering kita mengalami kejenuhan untuk
> pergi ke gereja dan
> merasa tak ada gunanya, semoga cerita di atas ini
> bisa lebih meneguhkan
> kita akan pentingnya ke gereja.
>
>
> ############ ######### ######### ######
> Segala Sesuatu Indah Pada Waktunya
> ############ ######### ######### ######
Sabtu, 21 Februari 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar